unikbaca com » » Permainan Tradisional Yang Hampir Punah

Permainan Tradisional Yang Hampir Punah

Banyak permainan tradisional yang hampir punah sejumlah permainan tradisional anak-anak Nusantara terancam punah seiring dengan banyaknya permainan modern yang masuk ke Indonesia. Hal tersebut disampaikan budayawan Prof. Ayu Sutarto, dalam acara sarasehan "Permainan Tradisional Anak Nusantara" yang digelar di salah satu hotel di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Permainan Tradisional

"Saat ini banyak permainan tradisional yang sudah ditinggalkan oleh anak-anak, bahkan mereka tidak mengenal permainan tradisional Nusantara seperti dakon, petak umpet dan egrang," kata Ayu Sutarto.

Menurut dia, permainan tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia tidak hanya menghibur, namun memberikan pelajaran yang bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat.

"Beberapa permainan tradisional mengandung nilai-nilai luhur yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperkokoh jati diri dan identitas bangsa," tuturnya menjelaskan.

Permainan dakon, lanjut dia, mengajarkan cara menabung dan berlaku jujur seiring dengan peribahasa rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya.

"Untuk itu, nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional sangat penting untuk diangkat kembali dan diajarkan kepada anak-anak di Indonesia," paparnya.

Ia mengemukakan, pengaruh kebudayaan global mulai mewarnai permainan anak-anak zaman sekarang, sehingga mengikis nilai-nilai luhur kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

"Selama ini, kebersamaan, kepemilikan dan kejujuran merupakan bagian dari jati diri bangsa Indonesia, namun saat ini banyak tayangan yang menyuguhkan kekerasan, sehingga berdampak buruk pada perkembangan anak-anak di Indonesia," katanya.

Pengamat permainan anak tradisional dari Yogyakarta yang juga menjadi narasumber dalam sarasehan itu, Wahyudi Anggoro Hadi mengatakan, anak-anak di Indonesia mulai meninggalkan permainan tradisional seiring dengan pengaruh global.

"Permainan tradisional sesungguhnya memiliki nilai dan watak kemandirian, namun sayang banyak anak-anak yang enggan melakukan permainan tradisional saat ini karena dianggap kuno," ucapnya.

Bersama "Komunitas Pojok Budaya" di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Wahyudi berusaha melestarikan permainan anak-anak berbahan bambu dan kertas.

"Hampir semua masyarakat di desa Panggungharjo menggantungkan perekonomiannya dengan membuat mainan anak-anak, sehingga pelestarian dolanan anak-anak dilakukan secara kultural dan ekonomis," paparnya.

Ia berharap, semua pihak bekerja sama untuk melestarikan permainan tradisional anak-anak untuk menguatkan jati diri bangsa Indonesia, supaya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam permainan tersebut tetap terpelihara. (Ant/X-11) MediaIndonesia
Link Within