Fenomena Equinox di Indonesia Berbahaya Atau Biasa

Fenomena Equinox di Indonesia berbahaya ataukah biasa saja. Alam dan tata surya yang diciptakan Allah SWT untuk mendukung kehidupan di Bumi, memang sangat menakjubkan. Garis edar Matahari, Bumi dan planet-planet lain dalam sistem tata surya Bima Sakti misalnya, menciptakan banyak fenomena yang menakjubkan

Fenomena Equinox di Indonesia

Membuat umat manusia yang beriman mengagumi, mengakui, bahkan tak dapat memungkiri bahwa Allah memang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Tiada yang melebihi-Nya. Indonesia juga pernah disuguhi fenomena El Nino yang membuat sebagian wilayahnya mengalami kekeringan parah.

El Nino dapat membuat tanah kering kerontang, retak-retak dan petani mengalami gagal panen, dan pada 9 Maret 2016 Indonesia disuguhi fenomena gerhana Matahari total (GMT) yang hanya terjadi dalam 350 tahun sekali.

Pada 21 Maret mendatang satu fenomena lagi akan hadir menyapa rakyat Indonesia, namanya fenomena equinox. Equinox merupakan peristiwa astronomi di mana Bumi berputar mengelilingi matahari dengan posisi yang sedikit miring, sekitar 23,5 derajat terhadap bidang lintasannya yang dikenal sebagai ekliptik, sehingga sinar Matahari tidak selalu tepat berada di bagian tengah Bumi atau garis Khatulistiwa.

Saat fenomena ini muncul, belahan Bumi bagian utara miring mengarah ke Matahari, sehingga penduduk Bumi merasakan siang hari lebih panjang karena banyak cahaya jatuh di wilayah tersebut. Fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun, sekitar 21 Maret dan 23 September.

Para astronom mengatakan, fenomena yang muncul pada 20 Maret ini adalah spring equinox yang menandai dimulainya siang hari yang terasa lebih panjang dan malam hari akan menjadi lebih pendek, dan fenomena ini akan berakhir saat fenomena summer solstice tiba pada 20 Juni. unikbaca com

Kemunculan fenomena spring equinox membuat musim panas menjadi terasa lebih kering karena temperatur suhu udara bisa naik hingga kisaran 33-36 derajat Celcius. Selain Indonesia, Malaysia dan Singapura juga akan merasakan fenomena ini dalam waktu yang sama.

Nama "Equinox" berasal dari bahasa latin yang artinya "Malam yang sama panjang". Karena saat fenomena ini terjadi, bukan hanya siang hari yang terasa panjang, namun malam hari juga demikian, sehingga saat fenomena terjadi, durasi siang dan malam menjadi sama panjangnya.

Bagi mereka yang tinggal di wilayah yang berada di garis khatulistiwa, merasakan durasi siang dan malam yang sama panjang adalah perkara biasa, tetapi tidak bagi yang tinggal di negara dengan empat musim. Bagi penduduk negara dengan empat musim, durasi malam dan siang yang sama panjang adalah hal langka yang dapat memicu keresahan.

Maklum, karena di negara empat musim, saat musim panas, siang menjadi lebih panjang dari malam, dan ketika musim dingin sebaliknya. Saat fenomena equnox terjadi pada 21 Maret, Matahari 'berpindah' dari Kutub Selatan ke Kutub Utara yang menandakan datangnya musim panas di belahan utara. Equinox pada tanggal ini dinamakan Vernal Equinox.

Saat fenomena equinox pada 23 September, Matahari 'berpindah' dari Kutub Utara ke Kutub Selatan yang menandakan datangnya musim gugur di belahan Bumi utara. Equinox pada tanggal ini dinamakan Autumnal equinox.


Posisi Matahari pada 21 Juni berada di belahan utara bumi atau 23,5 derajat Lintang Utara, sedang pada 23 September, Matahari berada tepat di garisan Khatulistiwa.

Pada 22 Disember, Matahari berada di belahan selatan Bumi atau -23,5 derajat Lintang Selatan, dan pada 21 Maret Matahari kembali berada di Khatulistiwa.

Pada saat matahari berada di utara dan selatan (21 Juni dan 22 Desember) disebut sebagai Solstice Matahari (Titik Balik Matahari).

Solstice adalah satu peristiwa astronomi yang terjadi sebanyak dua kali setiap tahun apabila kedudukan Matahari di langit hampir mencapai titik paling utara atau paling selatan Bumi. Nama peristiwa ini juga berasal dari bahasa Latin, yaitu sol yang berarti Matahari, dan sistere yang berarti diam.

Saat solstice terjadi, Matahari berada pada posisi kecondongan yang tetap, yaitu suatu posisi di antara utara dan selatan dimana Matahari berhenti sebelum berbalik arah.

Solstice dan equinox terkait erat dengan terjadinya musim di Bumi, karena fenomena-fenomena ini memperlihatkan seolah-olah Matahari bergerak dari utara ke selatan selama setengah tahun, dan bergerak dari selatan ke utara pada setengah tahun berikutnya.

Pergerakan Matahari inilah yang membentuk empat musim di bumi, yaitu musim gugur, musim dingin, musim semi dan musim panas. Ketika equinox terjadi, waktu antara siang dan malam menjadi sama, yaitu 12 jam di seluruh permukaan Bumi.

Ketidakbiasaan seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu yang tidak biasa, dapat memicu keresahan dan ketakutan yang berlebihan. Termasuklah ketidakbiasaan penduduk di negeri dengan empat musim terhadap fenomena Equinox. unikbaca

Sejumlah media di Barat mengabarkan, menjelang fenomena itu terjadi, telah tersebar pesan berantai yang mengingatkan orang lain akan bahayanya fenomena ini, begitu pun yang terjadi di Indonesia.

Dalam pesan berantai itu disebutkan, karena cuaca akan menjadi sangat panas, masyarakat disarankan untuk tetap berada di rumah saat fenomena equinox terjadi, terutama pada pukul 12:00-15:00 karena di saat inilah cuaca sedang sangat menyengat. Bahkan disebut-sebut mencapai 40 derajat Celcius.


Cuaca ekstrim ini dapat memicu menyebabkan dehidrasi, sehingga setiap orang disarankan untuk banyak-banyak minum.

“Setiap orang harus mengonsumsi sekitar 3 liter cairan setiap hari, dan memonitor tekanan darah,” tulis pesan tersebut.

Tak hanya itu, untuk mengatasi serangan panas yang ekstrim, orang juga disarankan mandi air dingin sesering mungkin, mengurangi makan daging, dan perbanyak makan buah serta sayuran.

Untuk mengatahui tingkat serangan panas, disarankan menempatkan lilin yang tidak terpakai di luar rumah. Jika lilin meleleh, berarti udara dalam tingkat yang berbahaya.

“Selalu menempatkan ember dengan air setengah penuh di ruang tamu dan di suhu setiap kamar dijaga agar tetap lembab,” kata pesan itu lagi.

Pengalaman pertama di Malaysia dan Singapura, heat stroke tidak memiliki gejala indikasi. Setelah pingsan, efek serius yang berbahaya di antaranya seperti kegagalan organ dalam.

Namun National Envirnonment Agency (NEA) atau Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura, membantah isi pesan itu, karena katanya, saat equinox, suhu tidak mencapai 40 derajat Celsius, sehingga tidak terjadi heat stroke atau sun stroke yang berujung pada dehidrasi.

Formulir Kontak