Ukuran Hewan Jadi Kecil Karena Global Warming

Ukuran Hewan Jadi Kecil Karena Global Warming

Ternyata ukuran hewan jadi kecil karena global warming atau pemanasan global, setidaknya inilah yang diklaim para ilmuwan dekade ini. Pemanasan global lah yang telah mengecilkan ukuran hewan tertentu di zaman purba, dan para ilmuwan khawatir hal itu bisa terjadi lagi di era modern.

Hewan berdarah panas setidaknya sudah menjadi dua kali lebih kecil dalam sejarah ketika tingkat karbon dioksida melonjak dan suhu di Bumi meningkat sebagai bagian dari pemanasan alami, kata sebuah studi terbaru.

Peneliti di University of New Hampshire, Abigail D'Ambrosia, memperingatkan bahwa mamalia, ukurannya bisa mengecil lebih cepat di masa mendatang di bawah pemanasan global. "Ini adalah sesuatu yang perlu kita awasi," kata D'Ambrosia, yang memimpin studi terbaru, seperti dikutip USA Today.

"Pertanyaannya adalah, seberapa cepat kita akan melihat perubahan ini," sambung dia. Tiga spesies berbeda tercatat menyusut sekitar 54 juta tahun silam ketika planet tiba-tiba memanas. Salah satu dari jenis kuda, menjadi 14 persen lebih kecil, dari sekitar 7,7 kilogram menjadi 6,6 kilogram, menurut sebuah analisis dari fosil gigi dalam jurnal Science Advances.

"Hewan ini mungkin dulu sebesar anjing, kemudian mereka mengecil," kata D'Ambrosia. "Kini tubuhnya menjadi seukuran kucing." Makhluk lainnya adalah hewan lemur, yang menyusut sekitar 4 persen.

Studi sebelumnya telah mendokumentasikan soal menyusutnya sejumlah mamalia, termasuk nenek moyang kuda purba, selama pemanasan sebelumnya, yang berkisar pada 56 juta tahun lampau. Para ilmuwan dan petani juga sudah lama mengawati hewan seperti sapi yang menyusut dan memberikan sedikit susu saat cuaca panas. Studi terbaru ini menunjukkan pemanasan global dan penyusutan ukuran hewan adalah dua hal yang saling terkait.

"Hasil ini sangat penting karena memberi tes independen lain mengenai apakah iklim mendorong perubahan ukuran tubuh pada mamalia," kata Jonathan Bloch, kurator paleontologi vertebrata di Florida Museum of Natural History, yang bukan bagian dari penelitian.

"Jika kita mulai melihat pola berulang, kita bisa belajar dari itu. Dan apa yang kita pelajari dari pelajaran ini tentu akan menjadi penting ketika kita berpikir tentang respons yang mungkin terjadi pada tumbuhan dan hewan dalam perubahan iklim di masa depan," sambungnya.

Kedua studi D'Ambrosia menunjukkan soal pemanasan sebelumnya didasarkan pada fosil Bighorn Basin yang ditemukan dari Wyoming. D'Ambrosia menduga penyusutan tidak hanya hanya terjadi di wilayah sana. Dalam iklim panas, mamalia dan hewan berdarah panas lainnya lebih banyak mencucurkan keringat, mereka menyusut.

Hewan yang lebih kecil memiliki lebih banyak kulit, atau bulu, per gram dari hewan yang lebih besar, hingga lebih banyak panas dapat terlepas, membuat mereka menyesuaikan diri secara lebih baik dengan iklim yang lebih hangat. Hewan yang lebih besar akan lebih baik dalam suhu dingin karena mereka memiliki kulit dan mampu menjaga panas tubuh mereka.

Baca Menarik Lainnya

Bagikan Pada Teman

Buka Komentar Facebook
Selesai Komentar